Kamis, 10 September 2015

Cara Instal dual boot Android x86 Lollipop 5.1 (PC) di Windows

Langsung saja dan jangan banyak basa-basi, jika terlalu lama maka akan cepet kadaluarsa..:D

Pertama siapkan bahan-bahannya :
1. Leptop/PC yang akan kita instal Android
2. Android x86 Lollipop 5.1 download
3. Android x86 Easy Installer download
4. Teh/Kopi dan Cemilan

Langkah-langkah instalasi :
1. Buka program Android x86 Easy Installer yang telah didownload tadi
    maka akan tampil seperti berikut :

2. Kemudian pada "Instalation ISO", pilih file Android yang telah didownload tadi :


3. Pada "Instal to Partition", pilih partisi yang ingin anda instal (Bebas).
4. Dan pada "User Data Max Size", pilih kapasitas memory Android yang anda inginkan.
    min 2gb, up to 32gb.
5. Setelah semuanya selesai klik "Instal Now" untuk memulai instalasi.
    Tunggu hingga prosesnya selesai
6. Jika sudah selesai proses instalasinya maka akan muncul peringatan berikut :

7. Langkah selanjutnya yaitu buka Notepad, kemudian klik file terus pilih open,
    pilih pada partisi "C:" dan pada kotak File Name ketik "menu.lst"
    maka akan tampil seperti berikut  :

8. cari "nomodeset" kemudian hapus, dan ganti "androidboot.hardware=eeepc" dengan
    "androidboot.hardware=android_x86" (masing-masing ada dua buah, ganti semua),
     kemudian save.
9. Restart komputer dan selamat Android x86 telah terinstal (dual boot).

Minggu, 02 Agustus 2015

Cara Menginstal Feature Netframework menggunakan DVD Installer/USB Bootable/ISO Windows 8/8.1/10

Sesuai dengan judul pada postingan kali ini saya ingin membahas cara menginstal Feature Netframe menggunakan DVD instaler. langsung saja jangan banyak basa-basi, berikut tutorialnya:

1. Langkah pertama pastinya membutuhkan instalernya,. jika menggunakan DVD Instaler masukan terlebih dahulu kedalam CD-Rom anda, apabila anda menggunakan USB bootable maka tancapkan terlebih dahulu, atau menggunakan file ISO silahkan anda mount terlebih dahulu.
2. Langkah selanjutnya buka CMD/Command Prompt dengan cara klik kanan kemudian Run As Administrator.
3. Lalu ketikan perintah berikut :

    Dism.exe /online /enable-feature /featurename:NetFX3 /all /source:E:\sources\sxs /LimitAccess

    keterangan : 
         ubah drive "E" tersebut sesuai dengan instaler pada PC/Leptop anda

4. tunggu hingga prosesnya selesai.


Minggu, 12 April 2015

AKSARA JAWA YANG HAMPIR PUNAH

Aksara jawa sudah ada sejak zaman-zaman kerajaan dahulu. Namun kini, penggunaan aksara jawa sudah tidak digandrungi lagi, bahkan lama kelamaan akan hilang seperti hilangnya teori ‘Matahari Bergerak mengelilingi Bumi‘.
Dewasa ini Aksara Jawa sudah tidak banyak dikenal di kalangan generasi muda. Kebanyakan  para orang tua masih  mengenalnya, namun  untuk generasi mudanya, hampir dikatakan tidak ada atau hanya  segelintir saja. Di Daerah Istimewa Yogyakarta banyak ditemui nama jalan dan nama-nama tempat yang ditulis dengan menggunakan Aksara Jawa, yaitu huruf khas tanah Jawa yang bentuk dan aturan penulisannya tidak sama dengan huruf abjad pada umumnya. Namun tidak semua penduduk Jawa dapat mengerti arti-arti tulisan Aksara tersebut, bahkan tak jarang ditemui guru-guru bahasa Jawa tidak dapat dengan mahir membaca dan menulis huruf-huruf Aksara, mereka harus melihat karwuh basa Jawa untuk membaca atau pun menulisnya.
Karena minimnya pembelajaran mengenai tulisan Jawa  maka anak-anak menganggap bahwa Aksara Jawa itu susah, murid-murid di sekolah menganggap pelajaran materi Aksara sebagai nasib yang menyusahkan. Bila kita lihat di Thailand sana, mereka penduduk Thailand juga mempunyai huruf khas layaknya Aksara Jawa. Akan tetapi menulis dan membaca huruf-huruf tersebut tidaklah sulit bagi mereka, karena mereka bangga mempelajarinya.

Contoh Aksara Jawa yang saya buat

Aksara Jawa, dikenal juga sebagai Hanacaraka dan Carakan, adalah salah satu aksara tradisional Nusantara yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa dan sejumlah bahasa daerah Indonesia lainnya seperti bahasa Sunda danbahasa Sasak. Tulisan ini berkerabat dekat dengan aksara Bali.
Dalam sehari-hari, penggunaan aksara Jawa umum digantikan dengan huruf Latin yang pertama kali dikenalkan Belanda pada abad ke-19. Aksara Jawa resmi dimasukkan dalam Unicode versi 5.2 sejak 2009. Meskipun begitu, kompleksitas aksara Jawa hanya dapat ditampilkan dalam program dengan teknologi Graphite SIL, seperti browser Firefox dan beberapa prosesor kata open source, sehingga penggunaannya tidak semudah huruf Latin. Kesulitan penggunaan aksara Jawa dalam media digital merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kurang populernya aksara tersebut selain di kalangan preservasionis.

Ciri-ciri
Suku kata /ka/ ditulis dengan satu aksara. Tanda baca dapat mengubah, menambahkan, atau menghilangkan vokal suku kata tersebut. Aksara memiliki beberapa bentuk untuk menulis nama, pengejaan asing, dan konsonan bertumpuk
Aksara Jawa adalah sistem tulisan Abugida yang ditulis dari kiri ke kanan. Setiap aksara di dalamnya melambangkan suatu suku kata dengan vokal /a/ atau /ɔ/, yang dapat ditentukan dari posisi aksara di dalam kata tersebut. Penulisan aksara Jawa dilakukan tanpa spasi (scriptio continua), dan karena itu pembaca harus paham dengan teks bacaan untuk dapat membedakan tiap kata. Selain itu, dibanding dengan alfabet Latin, aksara Jawa juga kekurangan tanda baca dasar, seperi titik dua, tanda kutip, tanda tanya, tanda seru, dan tanda hubung.
Aksara Jawa dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan fungsinya. Aksara dasar terdiri dari 20 suku kata yang digunakan untuk menulisbahasa Jawa modern, sementara jenis lain meliputi aksara suara, tanda baca, dan angka Jawa. Setiap suku kata dalam aksara Jawa memiliki dua bentuk, yang disebut nglegena (aksara telanjang), dan pasangan (ini adalah bentuk subskrip yang digunakan untuk menulis gugus konsonan).
Kebanyakan aksara selain aksara dasar merupakan konsonan teraspirasi atau retrofleks yang digunakan dalam bahasa Jawa Kunokarena dipengaruhi bahasa Sanskerta. Selama perkembangan bahasa dan aksara Jawa, huruf-huruf ini kehilangan representasi suara aslinya dan berubah fungsi.
Sejumlah tanda diakritik yang disebut sandhangan berfungsi untuk mengubah vokal (layaknya harakat pada abjad Arab), menambahkan konsonan akhir, dan menandakan ejaan asing. Beberapa tanda diakritik dapat digunakan bersama-sama, namun tidak semua kombinasi diperbolehkan.

Sejarah
Aksara Jawa sedang diajarkan pada sekolah periode kolonial.
Tulisan Jawa dan Bali adalah perkembangan modern aksara Kawi, salah satu turunan aksara Brahmi yang berkembang di Jawa. Pada masa periode Hindu-Buddha, aksara tersebut terutama digunakan dalam literatur keagamaan dan terjemahan Sanskerta yang biasa ditulis dalam naskah daun lontar. Selama periode Hindu-Buddha, bentuk aksara Kawi berangsur-angsur menjadi lebih Jawa, namun dengan ortografi yang tetap. Pada abad ke-17, tulisan tersebut telah berkembang menjadi bentuk modernnya dan dikenal sebagaiCarakan atau hanacaraka berdasarkan lima aksara pertamanya.
Carakan terutama digunakan oleh penulis dalam lingkungan kraton kerajaan seperti Surakarta dan Yogyakarta untuk menulis naskah berbagai subjek, di antaranya cerita-cerita (serat), catatan sejarah (babad), tembang kuno (kakawin), atau ramalan (primbon). Subjek yang populer akan berkali-kali ditulis ulang. Naskah umum dihias dan jarang ada yang benar-benar polos. Hiasan dapat berupa tanda baca yang sedikit dilebih-lebihkan atau pigura halaman (disebut wadana) yang rumit dan kaya warna.
Pada tahun 1926, sebuah lokakarya di Sriwedari, Surakarta menghasilkan Wewaton Sriwedari (Ketetapan Sriwedari), yang merupakan landasan awal standarisasi ortografi aksara Jawa. Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak panduan mengenai aturan dan ortografi baku aksara Jawa yang dipublikasikan, di antaranya Patokan Panoelise Temboeng Djawa oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada 1946, dan sejumlah panduan yang dibuat oleh Kongres Bahasa Jawa (KBJ) antara 1991 sampai 2006. KBJ juga berperan dalam implementasi aksara Jawa di Unicode.

Namun dari itu, penggunaan aksara Jawa telah menurun sejak ortografi Jawa berbasis huruf latin ditemukan pada 1926, dan sekarang lebih umum menggunakan huruf latin untuk menulsi bahasa Jawa. Hanya beberapa majalah dan koran yang masih mencetak dalam aksara Jawa, seperti Jaka Lodhang. Aksara Jawa masih diajarkan sebagai muatan lokal pada sekolah dasar dan sekolah menengah di provinsi yang berbahasa Jawa.







Saran : Sudah semestinya kita sebagai generasi selanjutnya menjaga dan melestarikan kebudayaan indonesia yang diberikan oleh nenek moyang kita. Sehingga kebudayaan tersebut tidak hilang maupun musnah.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Jawa

Jumat, 23 Januari 2015

Masyarakat Perkotaan dan Masyarakat Pedesaan

A.      Pengertian Masyarakat
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Masyarakat sering diorganisasikan berdasarkan cara utamanya dalam bermata pencaharian. Pakar ilmu sosial mengidentifikasikan ada: masyarakat pemburu, masyarakat pastoral nomadis, masyarakat bercocoktanam, dan masyarakat agrikultural intensif, yang juga disebut masyarakat peradaban. Sebagian pakar menganggap masyarakat industridan pasca-industri sebagai kelompok masyarakat yang terpisah dari masyarakat agrikultural tradisional.
Masyarakat dapat pula diorganisasikan berdasarkan struktur politiknya: berdasarkan urutan kompleksitas dan besar, terdapat masyarakat band, suku, chiefdom, dan masyarakatnegara.
Kata society berasal dari bahasa latin, societas, yang berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius yang berarti teman, sehingga arti society berhubungan erat dengan kata sosial. Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama.
Untuk menganalisa secara ilmiah tentang proses terbenruknya masyarakat sekaligus problem-problem yang ada sebagai proses-proses yang sedang berjalan atau bergeser kita memerlukan beberapa konsep. Konsep-konsep tersebut sangat perlu untuk menganalisa proses terbentuk dan tergesernya masyarakat dan kebudayaan serta dalam sebuah penelitian antropologi dan sosiologi yang disebut dinamik sosial (social dynamic). Konsep-konsep penting tersebut antara lain :
·       Internalisasi (internalization)
·       Sosialisasi (socialization)
·       Enkulturasi (enculturation).

B.       Masyarakat Pedesaan


Masyarakat pedesaan selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat digeneralisasikan pada kehidupan masyarakat desa di Jawa. Namun demikian, dengan adanya perubahan sosial religius dan perkembangan era informasi dan teknologi, terkadang sebagian karakteristik tersebut sudah “tidak berlaku”. Masyarakat pedesaan juga ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yagn amat kuat yang hakekatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama-sama sebgai masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat.
Adapun yang menjadi ciri masyarakat desa antara lain :

1.        Didalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya.
2.        Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan
3.        Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian
4.        Masyarakat tersebut homogen, deperti dalam hal mata pencaharian, agama, adapt istiadat, dan sebagainya

Didalam masyarakat pedesaan kita mengenal berbagai macam gejala, khususnya tentang perbedaan pendapat atau paham yang sebenarnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan –ketegangan sosial. Gejala-gejala sosial yang sering diistilahkan dengan :
1.        konflik
2.        kontraversi
3.        kompetisi

C.      Masyarakat Perkotaan


Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta cirri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberap ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :

1.        kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa
2.        orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu. Di kota -kota kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan, sebab perbedaan kepentingan paham politik, perbedaan agama dan sebagainya.
3.        Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan , menyebabkan bahwa interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada factor kepentingan daripada factor pribadi.
4.        pembagian kerja di antra warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata
5.        kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa
6.        interaksi yang terjai lebih banyak terjadi berdasarkan pada factor kepentingan daripaa factor pribadi
7.        pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu
8.        perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.

D.      Perbedaan Masyarakat Pedesaan Dan Perkotaan

1.        Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam, Masyarakat perdesaan berhubungan kuat dengan alam, karena lokasi geografisnyadi daerah desa. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan dan hukum alam. Berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota yang kehidupannya “bebas” dari realitas alam.
2.        Pekerjaan atau Mata Pencaharian, Pada umumnya mata pencaharian di dearah perdesaan adalah bertani tapi tak sedikit juga yg bermata pencaharian berdagang, sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha.
3.        Ukuran Komunitas, Komunitas perdesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan.
4.        Kepadatan Penduduk, Penduduk desa kepadatannya lbih rendah bila dibandingkan dgn kepadatan penduduk kota,kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dgn klasifikasi dari kota itu sendiri.
5.        Homogenitas dan Heterogenitas, Homogenitas atau persamaan ciri-ciri sosial dan psikologis, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perilaku nampak pada masyarakat perdesa bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Di kota sebaliknya penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dgn macam-macam perilaku, dan juga bahasa, penduduk di kota lebih heterogen.
6.        Diferensiasi Sosial, Keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yg tinggi di dlm diferensiasi Sosial.
7.        Pelapisan Sosial, Kelas sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam bentuk “piramida terbalik” yaitu kelas-kelas yg tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.
Ada beberapa perbedaan pelapisan sosial yang tak resmi antara masyarakat desa dan kota:
§   pada masyarakat kota aspek kehidupannya lebih banyak system pelapisannya dibandingkan dengandi desa.
§   pada masyarakat desa kesenjangan antara kelas eksterm dalam piramida sosial tidak terlalu besar dan sebaliknya.
§   masyarakat perdesaan cenderung pada kelas tengah.
§   ketentuan kasta dan contoh perilaku.
8.        Mobilitas Sosial
Mobilitas berkaitan dgn perpindahan yg disebabkan oleh pendidikan kota yg heterogen, terkonsentrasinya kelembagaan-kelembagaan.
§   banyak penduduk yg pindah kamar atau rumah
§   waktu yg tersedia bagi penduduk kota untuk bepergian per satuan
§   bepergian setiap hari di dalam atau di luar
§   waktu luang di kota lbih sedikit dibandingkan di daerah perdesaan Interaksi Sosial.
§   masyarakat pedesaan lebih sedikit jumlahnya
§   dalam kontak sosial berbeda secara kuantitatif maupun secara kualitatif
9.        Pengawasan Sosial
Di kota pengawasan lebih bersifat formal, pribadi dan peraturan lbh menyangkut masalah pelanggaran
10.    Pola Kepemimpinan
Menentukan kepemimpinan di daerah perdesaan cenderung banyak ditentukan oleh kualitas pribadi dari individu dibandingkan dengan kota
11.    Standar Kehidupan
Di kota tersedia dan ada kesanggupan dalam menyediakan kebutuhan tersebut, di desa tidak demikian
12.    Kesetiakawanan Sosial
Kesetiakawanan sosial pada masyarakat perdesaan dan perkotaan banyak ditentukan oleh masingmasing faktor yang berbeda
13.    Nilai dan Sistem Nilai
Nilai dan system nilai di desa dengan di kota berbeda dan dapat diamati dalam kebiasaan, cara dan norma yang berlaku
14.    Hubungan desa dan kota
Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan terdapat hubungan uang erat, bersifat ketergantungan, karena saling membutuhkan Kota tergantung desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan, desa juga merupakan tenaga kasar pada jenis-jenis pekerjaan tertentu di kota. sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yg juga diperlukan oleh orang desa, kota juga menyediakan tenaga-tenaga yang melayani bidang-bidang jasa yg dibutuhkan oleh orang desa.
15.    Urbanisasi dan Urbanisme
Urbanisasi adalah suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota. Secara umum sebab-sebab urbanisasi adalah sebagai berikut :
1.      Daerah yg termasuk menjadi pusat pemerintahan atau menjadi ibu kota.
2.      Tempat tesebut letaknya sangat strategis sekali untuk usaha-usaha perdagangan/perniagaan.
3.      Timbulnya industri di daerah itu, yang memproduksi barang maupun jasa.

                                                                                                    
E.       Aspek Positif Dan Negatif
Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola kehidupan sosial , ekonomi , kebudayaan dan politik . Kesemuanya ini akan dicerminkan dalam komponen – komponen yang memebentuk struktur kota tersebut . Jumlah dan kualitas komponen suatu kota sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pertumbuhan kota tersebut.
Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan , seyogyanya mengandung 5 unsur yang meliputi :
1.        Wisma : Untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya.
2.        Karya : Untuk penyediaan lapangan kerja.
3.        Marga : Untuk pengembangan jaringan jalan dan telekomunikasi.
4.        Suka : Untuk fasilitas hiburan, rekreasi, kebudayaan, dan kesenian.
5.        Penyempurnaan : Untuk fasilitas keagamaan, perkuburan, pendidikan, dan utilitas umum.

Untuk itu semua , maka fungsi dan tugas aparatur pemerintah kota harus ditingkatkan :
a)        Aparatur kota harus dapat menangani berbagai masalah yang timbul di kota . Untuk itu maka pengetahuan tentang administrasi kota dan perencanaan kota harus dimilikinya .
b)        Kelancaran dalam pelaksanaan pembangunan dan pengaturan tata kota harus dikerjakan dengan cepat dan tepat , agar tidak disusul dengan masalah lainnya ;
c)        Masalah keamanan kota harus dapat ditangani dengan baik sebab kalau tidak, maka kegelisahan penduduk akan menimbulkan masalah baru ;
d)       Dalam rangka pemekaran kota , harus ditingkatkan kerjasama yang baik antara para pemimpin di kota dengan para pemimpin di tingkat kabupaten tetapi juga dapat bermanfaat bagi wilayah kabupaten dan sekitarnya.

Oleh karena itu maka kebijaksanaan perencanaan dan mengembangkan kota harus dapat dilihat dalam kerangka pendekatan yang luas yaitu pendekatan regional . Rumusan pengembangan kota seperti itu tergambar dalam pendekatan penanganan masalah kota sebagai berikut :
1)        Menekan angka kelahiran
2)        Mengalihkan pusat pembangunan pabrik (industri) ke pinggiran kota
3)        Membendung urbanisasi
4)        Mendirikan kota satelit dimana pembukaan usaha relatif rendah
5)        Meningkatkan fungsi dan peranan kota-kota kecil atau desa-desa yang telah ada di sekitar kota besar
6)        Transmigrasi bagi warga yang miskin dan tidak mempunyai pekerjaan.

Sumber :
 
Copyright © Ezzooossss Softskill
Blogger Theme by BloggerThemes Sponsored by Internet Entrepreneur